Selamat Datang di Blog saya! Tuhan Memberkati...

SALAM DAMAI DALAM KASIH TUHAN SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT GBU

Rabu, 12 Oktober 2011

friedrich w. a. froebel dan robert raikes

FRIEDRICH W.A. FROEBEL  (1782 -1852 )
Pendiri taman kanak-kanak
Yogyakarta, 14 juni 2010
Posma purba

Latar belakang singkat
Froebel adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ia baru berumur Sembilan bulan ketika ibunya meninggal. Ayahnya seorang pendeta, tinggal di desa Oberweissbach di hutan Thunringia, Jerman. Kesibukan bapaknya sebagai pendeta menyebabkan perhatian terhadap perkembangan Frobel agak terganggu. Masa kanak-kanak Frobel semakin sulit, karena ayahnya menikah lagi, dan mendapatkan seorang adik tiri.
Froebel tidak mendapat pendidikan yang cukup, seperti saudaranya yang kuliah Kedokteran di Universitas Jena. Ia sering ditugaskan untuk mengantar uang untuk abangnya di Universitas Jena. Berbekal warisan dari ibunya, akhirnya Froebel bisa kuliah di Universitas Jena setelah terlebih dahulu selama delapan minggu menjadi mahasiswa tidak tetap.
Ia mengikuti kuliah ilmu-ilmu kimia, minerologi dan tumbuh-tumbuhan. Khusunya tentang ilmu tumbuh-tumbuhan itu, ia mendengar tentang kesatuan dan keseimbangan. Namun ia hanya kuliah selama dua tahun, dan akhirnya berhenti karena warisannya dibagi kepada kakaknya.
Tiga tahun kemudian, saat pamanya meninggal ia mendapatkan kesempatan untuk kuliah lagi, sebab mendapatkan warisan dari pamanya. Lalu ia pergi ke Frankfurt, sebab dia mendapat beasiswa kuliah di bidang arsitektur. Setibanya di Frankfurt, ia mulai merasa ragu-ragu tentang maksud tersebut. Ia bertanya kepada dirinya sendiri,” bagaimanakah saya dapat bekerja di bidang arsitektur untuk memegahkan martabat umat manusia?”. Melalui pembicaraan dengan Dr.Anton Gruner kepala sekolah di Universitas Frankfurt, ia mengubah rencananya dan memilih sekolah guru. Ia sangat menikmati kesempatan belajar dan mengajar sebagai guru di Frankfurt.
Cikal bakal sekolah? Menjadi Taman Kanak-Kanak
Pada tahun 1837, di Keilhau di sebuah gedung bekas pabrik serbuk mesiu [dinamakan Blankenburg: istana yang mengkilap], Froebel membuka sebuah lembaga yang ia namakan,” Sekolah Latihan Psikologis Bagi Anak-anak melalui Permainan dan Kegiatan”, meskipun ia sendiri tidak puas dengan nama tersebut; antara lain karena dengan kata “Sekolah” itu tersirat adanya suatu organisasi yang teratur secara ketat (Robert B.Downs, Friedrich Froebel, Boston: Twayne, 1978, hlm.14). Padahal, Froebel mendirikan sekolah tersebut tidaklah dalam maksud demikian. Maksudnya adalah anak-anak hendaknya bertumbuh lebih bebas seperti tanaman sampai ia berbunga indah. Nama yang memenuhi syarat itu muncul saat Foebel bersama teman-temannya berjalan kaki di lembah  di mana ada banyak tanaman yang berbunga. Ia berhenti sejenak. Matanya berbinar-binar. Lantas ia berteriak, “ Wah, saya menemukannya! Die Kindergarten itulah namanya, Taman Kanak-Kanak ( Denton J. Snider, The Life of Friedrich Froebel, founder of the Kindegarten, Chicago: Sigma Publishing Co., 1900, hlm.306). sejak itu, Froebel mempropagandakan gagasan itu, mulai dari Dresden dan Leipzig.
Sesuai dengan nama “Taman Kanak-kanak”, anak kecil dipandang sebagai tanaman indah yang diberikan kesempatan bertumbuh dan berkembang dalam suasana kasih. “Taman” baru ini dibangun atas kasih yang sudah dibangun dalam rumahtangga. Di Blankenburg, persejajaran antara tanaman hidup dan “tanaman” insani diperlihatkan dalam kegiatan yang dirancang bagi anak. Semua anak memelihara taman umum, khusunya sayur-sayuran dan yang lain bunga
Dengan demikian Froebel berharap anak menikmati kesempatan memelihara “taman kecil” miliknya sendiri. Lebih penting lagi, diharapkan pula supaya anak menyadari diri sebagai peserta dalam taman yang lebih luas lagi dan bahwa ia belajar bertanggungjawab untuk memelihara sebidang tanah dengan baik. Anak yang memperhatikan tanaman akan melihat perkembangan setiap macam tumbuhan dan mudah-mudahan akan menyadari bahwa ia pun sedang bertumbuh (Downs, hlm. 43).   

Kegiatan bermain bagi anak kecil itu secara prinsipil amat penting, karena dengan demikian mereka belajar dan tidak hanya menghabiskan waktu begitu saja seperti yang umum kita pikirkan. Pada tanggal 21 Juni 1852, pendiri taman kanak-kanak itu meninggal dunia.

Konsep Pemikiran Froebel.

Entah para pendidik dewasa ini setuju atau tidak dengan pandangan Froebel ini, yang jelas dunia pendidikan berhutang kepadanya atas sumbangan yang berikan terhadap perkembangan pendidikan sebagai ilmu. Pertama ia merumuskan tiga istilah yang perlu masuk ke dalam perbendaharaan kata para pendidik: ilmu pendidikan, teori pendidikan dan praktek pendidikan
Teologi  adalah dasar\ pertama dalam pikiran Froebel. Keyakinan Froebel akan Allah sebagai kesatuan asli yang tampak dalam segala ciptaan. Menurut teologi Froebel, percaya berarti mengikut Yesus dalam usahaNya melaksanakan kehendak Allah. Bagi Froebel manusia tidak bekerja hanya untuk memperoleh rejeki, malahan bekerja untuk mewujudkan hakiki ilahinya ke dalam bentuk-bentuk lahiriah. Lebih tepat lagi, pekerjaan itu bersifat rohani dan mirip dengan kegiatan kreatif dari Allah sendiri.
Dasar pendidikan kedua adalah Ilmu Jiwa, atau tepatnya tinjauannya terhadap gaya bertindak anak. Hakikat tinjauan ini dapat diringkaskan dalam dua dalil pokok: 1) anak berhak diperlakukan sebagai seorang anak dan bukan sebagai orang dewasa yang bertubuh pendek dan kecil; 2) orangtua atau guru wajib member bimbingan kepada anak untuk menolongnya mencapai prestasi yang sesuai denga setiap tahap perkembangannya.
Menurut Froebel ada empat asas utama pendidikan anak:
1.      Pendidikan adalah pengalaman rohani yang menghantar anak didik bertindak sesuai dengan jatidirinya sebagai mahluk yang belum lengkap sebelum ia mengakui kesatuannya dengan Allah.
2.      Asas perkembangan terdiri atasa empat pola: a) benih yang kelak menghasilkan kedewasaan sudah ada dalam diri anak. Jadi pendidik perlu mengembangkan bakat yang tersembunyi dalm gen setiap anak atau dengan istilah, ia menjadikan lahir apa yang batin; b) hubungan dari bagian keutuhan, dalam arti guru memperhatikan anak sebagai pribadi yang unik tetapi yang perlu memperoleh tempat yang sehat dalam kelompok; c) yang batiniah didorong menjadi lahiriah, dalam arti mendidik itu mencakup usaha untuk menolong anak menyampaikan pikiran, perasaan, kekuatan jasmani dan imani yang telah ada secara batin, agar menjadi kelihatan (lahiriah) berupa buah nalar seperti pikiran, perasaan dalam bentuk seni, kekuatan jasmani melalui pelbagai keterampilan dan iman melalui tindakan moral dan pelayanan terhadap sesame manusia; d) asas perlawanan tampak dalam alam dan menyoroti gaya hidup dinamis supaya tidak merasa puas atau aman dengan status quo.
3.      Penyampaian arti melalui bahasa lambing berupa obyek seperti bola, kubus, tulisan, algu, gambar, karena symbol tersebut mencerminkan inti sari ilahi dari dunia ini termasuk manusia.
4.      Belajar dengan berbuat. Anak didik bukanlah bejana pasif yang menerima apa saja, melainkan ia ikut ambil bagian dalam pendidikannya. Hal ini terlihat dari lima hal; 1)bermain, 2) bernyanyi, 3) menggambar, 4) memelihara tanaman atau binatang kecil, 5) kesinambungan, dalam arti guru mengembangkan tugas belajar baru yang sesuai dengan pengalaman belajar sebelumnya..
Selain itu. Froebel member perhatian khusus terhadap praktek pendidikan.
1.      Tujuan Umum mencakup pendidikan yang melibatkan anak dalam pengalaman belajar supaya ia memecahkan masalah secara cerdas, bertindak moral dan adil terhadap dirinya sendiri, sesama, dunia alam dan memenuhi panggilan dalam masyarakat.
2.      Kurikulum Khusus untuk anak dari golongan usia anak pra sekolah, anak dari masa taman kanak-kanak, anak kecil dan anak tanggung.
3.      Metodologi. Dua belas macam metodologi yang dibicarakan, yakni: berdoa, percakapan, menghafalkan, mengucapkan jawaban secara bersama, bermain, swakaji [kreatifitas], meninjau dan memeriksa, pelaporan, bertanya, mengajar berdasarkan pola-pola, bercerita, serta latihan dan ulangan.
4.      Peran guru. Dalam pikiran Froebel, guru memainkan peranan yang penting bukan sebagai seorang yang member jawaban, melainkan sebagai penolong yang membimbing anak untuk memupuk kemampuannya.
5.      Peran keluarga.
Pertanyaan bagi kita adalah: bagaimana dengan pelaksanaan Taman Kanak-Kanak di Indonesia yang berubah menjadi Sekolah Anak-anak?
[ tulisan ini disadur dari , Robert R. Boehlke, Ph.d,  Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996. ]








Robert raikes (1735 - 1811 )
Pendiri sekolah minggu
Yogyakarta, 14 juni 2010
Posma purba
 Berbeda dengan Friederich W.A. Froebel, Raikes beruntung karena kehidupannya tidak pernah dibebani oleh persoalan kemiskinan. Ayahnya adalah anggota masyarakat terhormat  dari kelas menengah di Gloucester, Inggris sebuah kota yang letaknya dekat dengan tapal batas propinsi Wales, di tepi Sungai Severn, kira-kira 150 Km baratlaut London.
Ayah Raikes terkenal di Gloucester, karena dia memiliki surat kabar lokal Gloucester Journal. Ayahnya terkenal sebagai jurnalis yang memiliki kepedulaian terhadap nasib buruk rakyat jelata, dan Raikes meneruskan sikap ayahnya ini. Ia kerap mengecam pengusaha yang memperoleh keuntungan dari penderitaan rakyat. Begitu pula terhadap kebijakan Negara yang melalaikan keadaan buruk kaum miskin. Sejak tahun 1768, journalnya memuat gambaran keadaan penjara setempat seperti yang tampak dalam guntingan berikut:
Para narapidana yang dikurung di penjara tidak memiliki uang yang diperlukan untuk membeli makanan dan tidak memiliki pekerjaan untuk dapat memperoleh gaji, dengan rendah hati mohon pertolongan sekecil apapun dari dermawan yang dapat mengasihi keadaan mereka yang menyedihkan. Pemberian yang mereka terima itu tidak akan pernah terlupakan.
Sejumlah kecil uang yang pernah diserahkan kepada pencetak suratkabar ini sudah digunakan untuk membeli keperluan hidup bagi mereka yang dikurung dipenjara, yang sama sekali tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Di sana ada dua puluh orang yang hidup melarat sekali, dan tidak ada sarana untuk memperbaiki keadaannya (Alfred Gregory, Robert Raikes, Journalist and Philanthropist. A History of the Origin of Sunday Schools, Londong: Hodder and Stoughton, 1877, hlm.30-31).
Raikes tidak hanya memanfaatkan surat kabarnya untuk mendobrak hati pembacanya agar membuka hati dan dompetnya demi kehidupan minimal para narapidana, tetapi secara pribadi ia membagikan buku bacaan yang bermutu kepada mereka. Singkatnya, Raikes memenuhi sebagian tolok ukur yang ditentukan Yesus dalam menguji derajat murid-muridNya untuk mengikut jejakNya: “…Ketika Aku lapar, kamu member Aku makan;…ketika Aku telanjang, kamu member Aku pakaian;…ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku” (Mat.25:35a, 36a,c).
Selama bertahun-tahun Raikes tidak mengenal lelah dalam upaya memperbaiki nasib para narapidana. Pada akhirnya, tahun 1774, melalui pekerjaan John Howard dan Yang Mulia George Paul, Parliament mengesahkan dua hukum pertama yang mulai dapat mengatasi penghinaan terhadap martabat manusia yang tanpak dalam keadaan penjara Inggris.
Pengalaman Raikes dengan Narapidana di penjara makin menyadarkannya akan perlunya mencari jalan lain selain memperbaiki nasib mereka selama di penjara. Kebiasaan buruk mereka telah terbentuk sebelumnya, bukan di dalam penjara. Lalu Raikes meneliti situasi anak-anak yang membentuk prilakunya kemudian. Ternyata tidak banyak anak yang bertindak nakal. Kebanyakan anak-anak bekerja di pabrik atau tambang selama enam hari. Penampilan mereka jelek, rambut kusut, pakaian compang-camping dan kotor, bahasanya kasar.
Mesti ada jalan keluar untuk membebaskan tenaga muda yang sedang disia-siakan itu.justru tenaga inilah yang dianggap oleh masyarakat dan pemerintah tidak berguna. Padahal, mereka inilah yang berpotensi untuk memperkaya Negara, sebab di dalam diri anak-anak muda inilah terkandung bermacam penemuan, seni, ilmu pengetahuan, sastra, bahasa dan keberanian berusaha yang merupakan tolok ukur dari peradaban tinggi.
Persoalannya adalah, bagaimana tenaga penting ini diselamatkan? Siapakah yang mampu melaksanakan tugas berat itu? Raikes berefleksi atas hal ini, ada satu kata yang masuk kedalam kesadaranya, “ Usahakanlah!’.
Berdirinya Sekolah Minggu
Pada tahun 1780, Raikes pergi ke rumah seorang tukang kebun. Kebanyakan pekerjanya adalah anak-anak. Istri pemilik kebun itu mengeluh tentang kenakalan anak-anak pada hari Minggu. Lalu ia memohon dengan sangat agar Raikes berbuat sesuatu.
Lalu Raikes melakukan percobaan sederhana dengan membuka sekolah sederhana bagi anak miskin. Pada awalnya, sangat sulit sekali, sebab anak-anak ini sangat nakal. Guru yang digaji oleh Raikes menyerah. Namun lambat laun ada peningkatan. Lalu Raikes membuka Sekolah Minggu di tempat lain termasuk di jemaatnya sendiri, yakni saint Mary de Crypt.
Seorang teman Raikes yang bernama Thomas Stock, Pendeta Jemaat Saint John the Baptist yang merangkap jabatan Kepala Sekolah Katedral di Glucester, menjelaskan bahwa gagasan dan pendirian Sekolah Minggu pertama terjadi di dalam jemaatnya sebagai usaha kerja sama antara ia dan Raikes. Demikianlah isi surat yang ia kirim ke suratkabar daerah pada tanggal 2 Pebruari 1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tuliskan komentar anda!