Selamat Datang di Blog saya! Tuhan Memberkati...

SALAM DAMAI DALAM KASIH TUHAN SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT GBU

Selasa, 08 November 2011

KRISIS GLOBAL: SAAT UNTUK BERTOBAT!


Minggu 13 Juni 2010 (2 dob Trinitatis)
Teks Ambilan              : Yoel 1:8-20
Sibasaon                      : Yakobus 1:12-16
Topik mingguan: Masalah-masalah Global 2: Krisis Energi
                                      
bahan sermon,11 Juni  2010
KRISIS GLOBAL: SAAT UNTUK BERTOBAT!

1.      Secara khusus, Kitab Yoel ini menggambarkan hukuman yang Tuhan berikan kepada bangsa Israel melalui Tulah belalang. Hukuman ini, berdampak sistemik, sporadis, merusak dan menjadi bencana nasional. Kedatangan belalang bukanlah bencana biasa tapi sudah menjadi Kejadian Luarbiasa.
2.      Para penafsir, mengkelompokkan kejadian dengan tiga tafsiran yaitu:
I.                   Pandangan Alegoris. Bencana belalang ditafsirkan sebagai suatu serangan musuh. Kedatangan belalang dilukiskan akan datangnya musuh/tentara yang akan memerangi Israel.
II.                Pandangan Eskatologis-Apokaliptis. Bencana belalang ini bukan bencana biasa, tapi sebagai sebuah malapetaka yang mendahuli datangnya hari Tuhan (bndk. Wahyu 9:3-11).
III.             Pandangan Realistis. Apa yang digambarkan dalam Yoel 1 ini adalah kejadian yang sebenarnya. Bencana inipun secara realistis dipandang berhubungan dengan tanda-tanda kehadiran Tuhan. Pandangan ini secara umum diterima.
3.      Dalam Kitab Yoel ini, bencana itu, digambarkan secara terang, menghabiskan dan tak tersisa (1:4: apa yang ditinggalkan belalang pengerip telah dimakan belalang pendahan, apa yang ditinggalkan belalang pindahan telah dimakan belalang pelompat, apa yang ditinggalkan belalang pelompat telah dimakan belalang pelahap). Artinya, bencana itu tidak akan menyisakan sedikitpun, semua dihabiskan tak tersisia.
4.      Menanggapi bencana/malapetaka ini, Yoel menyerukan kepada seluruh rakyat untuk meratap. Dalam tradisi Israel, bentuk ratapan sudah biasa dilakukan. Dan biasanya dalam konteks meratap/ratapan selalu dihubungkan karena dosa dan pelanggaran umat terhadap Tuhan (bndk. Yes.22:2, Yer.4:8), yang menghadirkan bencana luarbiasa.
5.      Bangsa Israel diminta untuk meratapi nasib mereka. Mereka diminta meratap sebagai pertanda bahwa mereka sedang berduka (ay.8). duka cita mereka diibaratkan seperti duka cita seorang perempuan yang sebelum perkawinannya, kehilangan suaminya. Bisa dibayangkan dampak dari bencana ini, bukan hanya kepedihan saja tapi rasa malu yang besar seperti gambaran anak dara yang berlilitkan kain kabung.
6.      pekerja ladang dan pemeras anggur (1:11-12) disuruh malu  dan  meratap. Kerja mereka menjadi sia-sia. Tanah yang kerap ditafsirkan sebagai berkat Tuhan bagi Israel, sekarang menjadi tanah terkutuk. Ladang tidak menghasilkan apapun. Gandum musnah, buah anggur kering, minyak menipis, panen gagal total. Apa lagi yang mau dibanggakan dari tanah dan ladang, jika semuanya musnah. Hasil ladang ini bukan hanya untuk kebutuhan sehari-hari mereka saja, tapi juga untuk korban sajian di Rumah Tuhan. Kegagalan panen ini, ternyata berdampak serius terhadap perekonomian bangsa dan juga kewajiban spiritual mereka. Lalu, korban sajian dan korban curahan lenyap dari Rumah Tuhan (ay.9). lalu berkabunglah juga para imam, pelayan-pelayan Tuhan sebab tidak ada lagi yang bisa dipersembahkan mereka sebagai tuntutan agama kepada Tuhan. Dampaknya semakin jelas, tidak ada lagi kegirangan, semua malu, meratap, berduka dan berputus-asa (ay.12).
7.      para imam (13-14) didorong untuk “ melilitkan kain kabung…menangis…meratap” semua itu menggambarkan betapa dahsyatnya hukuman yang akan ditimpakan bagi mereka. Mereka ternyata tidak cukup menangis dan meratap saja. Harus ada upacara khusus untuk menghadapi bencana ini. Mereka harus melakuan dua hal dalam ratapan ini. 1. Mengadakan Puasa Kudus [dalam tradisi Israel, berpuasa adalah tsum, tsom dan ‘inna nafsyo yang berarti merendahkan diri dengan berpuasa. Puasa juga sering dilakukan sewaktu-waktu. Kadang bersifat perseorangan (2 sam 12:22), bersama-sama (Hak 20:26; Yl 1:14). Berpuasa adalah bukti lahiriah dukacita (1 sam 31:13, 2 sam 1:12; 3:35; Neh 1:4, Est 4:3; Mzm 35:13-14),  dan pernyataan pertobatan (1 sam 7:6; 1 raj 21:27; Neh 9:1-2; dan 9:3-4, Yun 3:5-8). Inilah cara manusia merendahkan dirinya (Ezr 8:21, Mzm 69:11). Berpuasa kerap kali dilakukan dengan tujuan memperoleh bimbingan dan pertolongan Allah (kel.34:28, Ul 9:9; 2 sam 12:16-23, 2 Taw 20:3-4, Ezr 8:21-23). Puasa harus dilakuan dengan kelakuan yang benar dan jujur (Yes.58:5-12, Yer.14:11-12, Za 7).  2. Memaklumkan Perkumpulan Raya. Yoel meminta agar para tua-tua dan seluruh penduduk negeri untuk berkumpul dan berteriak kepada Tuhan atas kengerian yang mereka alami.
8.      Mengapa mereka harus berpuasa dan berkumpul meminta tolong kepada Tuhan Allah? Yang pertama bencana ini hendak menyatakan Hari Tuhan sudah dekat, kedua kedatangan pemusnahan dari Yang Mahakuasa (ay.15). hal ini digambarkan dengan kenyataan dihadapan mereka: makanan lenyap, tidak ada lagi sukacita, biji-bijian kering di dalam tanah, lumbung-lumbung kosong melompong. Hewan, kawanan lembu, dan kambing domba terkejut sebab tidak ada lagi padang rumput (ay.16-18).
9.       Kronologis diatas menggambarkan bahwa penderitaan mereka sangat besar dan melanda semuanya. Untuk itulah, Yoel meminta mereka berkumpul dan berpuasa yang kudus, berteriak kepada Tuhan. Puasa ini dilakukan sebagai bentuk pengakuan bangsa Israel bahwa mereka takluk dan kalah terhadap  bencana terutama kepada Tuhan Allah. Jadi tindakan mereka ini mengarah kepada pengakuan dosa dan pertobatan.
10.  Doa permohonan. Sebuah doa (ay.19-20) menutup kisah ratapan ini. Doa ini disusun sesuai dengan banyak Mazmur ratapan: seruan kepada Allah dan pernyataan keluhan (ay.19b-20, bndk Mzm 12:1-3; 74:1). Tak ada lagi yang bisa dilakukan menghadapi situasi yang berat ini selain mengahdap Tuhan Allah. Doa ini dinaikkan sebab, mereka sudah takluk dan tidak tahan lagi menghadapi bencana ini. Kemurahan hati Tuhan Allah kembali diharapkan dalam situasi yang sulit ini. Mereka merindukan suasana damai, aman dan tentram seperti dulu lagi. Dan hanya Tuhan lah yang bisa memulihkan.
11.  Isu global warming/pemanasan Global sudah menjadi fakta ilmiah. Seiring dengan itu, terjadilah banyak bencana; baik itu gempa bumi, tanah longsor, kekeringan, kelaparan di seluruh pelosok negeri. Krisis energy pun mulai terasa. Minyak bumi semakin menipis, sementara prilaku borjuis masih saja terjadi. Minyak bumi, energy makin menipis, produksi kendaran bermotor dan penikmatnya tak surut malah bertambah. Kekeringan dan banjir didepan mata, tapi penebangan hutan pun tetap tak berhenti dan semakin merajalela.
12.  Jika, hal ini terus dilakukan maka kita akan berhadapan dengan Bencana Besar/ belalang. Sebagai orang yang percaya, Firman ini hendak menyadarkan kita bahwa sudah saatnya untuk berhenti hidup serakah, tidak peduli lingkungan dengan mengambil sikap yang terhormat dengan memuliakan semua karuni Tuhan di dunia ini. Menjaga dan melestarikan alam adalah menjaga dan memelihara kehidupan ini untuk memuliakan Tuhan. Jangan terlambat. Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tuliskan komentar anda!