Minggu 16 Juni 2010 EXAUDI (tangihon Ham ma, ale Jahowa)
Teks Ambilan : Panguhum 10:10-16
Sibasaon : Matius 14:22-33
Topik mingguan: dengar dan jawablah seruanku (Mzm 27:7)
bahan sermon, 11 Mei 2010
KEMBALI KEPADA TUHAN ALLAH!
1. Kitab Hakim-Hakim ini menyajikan kisah Israel antara kematian Yosua dan munculnya Samuel. Kata kerja Ibrani yang biasanya diterjemahkan “hakim” memiliki dua makna dasar: melakukan funhsi hakim (dalam konteks pengadilan istana atau pengadilan privat) dan memerintah. Tidak seorangpun dari hakim-hakim yang dikaitkan dengan fungsi pengadilan atau penghakiman kecuali Deborah (4: 4-5). Kebanyakan hakim-hakim melaksanakan fungsi sebagai pemimpin militer dan kadang-kadang sebagai penguasa sipil.
2. Secara khas, Kitab Hakim-hakim ini memperlihatkan teologi sejarah yang berisi: dosa menghantar ke hukuman, tetapi pertobatan memberi pengampunan dan pembebasan.
3. Pada akhir kitab Yosua, dinyatakan bahwa suku-suku Israel berada di tanah yang telah dijanjikan Allah kepada bapak leluhur mereka. Mereka berhasil menundukkan hanya sebagian dari musuh-musuh mereka, bukan semuanya (1:29-36).
4. Ada alasan mengapa tidak semua bangsa-bangsa itu tidak ditaklukkan. Alasannya adalah, supaya keturunan Isreal yang tidak mengenal perang, dilatih berperang oleh Tuhan (3:2) dan orang Kanaan, Sidon, Hewi, Het, Amori, Feris dan orang Yebus dibiarkan hidup untuk mencobai Israel. demikianlah, orang Israel hidup berdampingan bahkan terjadi perkawinan campur antara Orang Israel dan bangsa-bangsa itu (lih. 3:1-5).
5. Perjumpaan suku-suku Israel dengan bangsa-bangsa yang telah mendiami daerah tersebut terlebih dahulu menghasilkan “pertukaran budaya – Agama “. Nampaknya, bangsa Israel terkontaminasi dengan budaya – agama bangsa penyembah dewa Baal. Pada akhirnya, mereka ikut menyembah dewa Baal dan meninggalkan Allah yang membawa mereka dari Mesir (2:6-12).
6. Masalah pokoknya segera menjadi jelas, yaitu: Israel meninggalkan Allah dan berpaling kepada ilah-ilah Kanaan. Ujian untuk setia kepada Allah pada akhirnya memberikan hasil yang sangat memalukan. Bangsa ini gagal! …orang Israel itu melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; mereka beribadah kepada para Baal dan para Asytoret, kepada para allah orang Aram, para allah orang Sidon, para allah orang Moab, para allah bani Amon dan para allah orang Filistin (10:6). Penghianatan ini memperlihatkan ketidaksiapan bangsa ini menjadi umat Tuhan di tanah Perjanjian. Dengan kata lain, mereka belum siap dan harus diberikan banyak pelajaran tambahan dari Tuhan untuk mendewasakan mereka dalam iman kepada Tuhan Allah.
7. Saat, kesetiaan dilanggar, maka hukuman adalah balasannya. Bangkitlah murka Allah. Ia menyerahlan mereka ke dalam tangan orang Filistin dan bani Amon (10:7). Selama delapan belas tahun lamanya bangsa Israel ditindas dan diinjak (10:8). Bani Amonpun menyebrang sungai Yordan dan mendesak Israel (10:9).
8. Situasi yang sulit ini pada akhirnya membawa orang Israel pada sebuah pengakuaan: kami telah berbuat dosa terhadap Engkau, sebab kami telah meninggalkan Allah kami lalu beribadah kepada para Baal (ay.10). inilah pengakuan dosa yang dinyatakan bangsa Israel kepada Tuhan, jelas dengan harapan supaya mereka diselamatkan. Seruan ini sudah dalam taraf keputus-asaan akibat dari tekanan Amon dan Filistin. Tidak ada jalan lain, selain kembali kepada Tuhan Allah. Tidak ada juga gunanya berperang melawan orang Filistin dan Amon, sebab bangsa ini justru sedang dipakai Tuhan untuk menindas mereka. Berperangpun pasti akan kalah.
9. Ayat. 11-12. Allah mempertanyakan sikap mereka selama ini. Selama sejarah bangsa Israel, Tuhan telah menyelamatkan mereka dari tangan Mesir, Amori, Amon. Filistin, Sidon, Amalekh dan suku Maon. Fakta ini seolah-olah tidak diingat lagi sebagai bagian dari pekerjaan Allah yang besar. Bangsa-bangsa itu adalah bangsa yang sudah dikalahkan. Rasanya tidak patut orang Israel berguru/belajar dari mereka, apalagi menyembah ilah-ilah mereka. Tuhan mengingatkan mereka tentang semua itu dalam rangka untuk memberikan komperasi dan juga wibawa Allah dalam sejarah Israel.
10. Ayat 13-14. Berdasarkan semua fakta itu, Tuhan memutuskan untuk tidak akan menyelamatkan mereka lagi. Sampai disini, agaknya Tuhan sudah sampai pada kesimpulan untuk membiarkan bangsa Israel mendapatkan hukuman yang setimpal dan tidak akan dibela lagi. Saran Tuhan adalah supaya mereka meminta tolong kepada allah yang mereka sembah supaya allah-allah itu yang menyelamatkan. Rasanya, saran ini sudah dalam taraf kejengkelan. Saat terdesak, mereka kembali kepada Tuhan dan saat aman mereka melupakan Tuhan.
11. Murka Tuhan Allah ini sudah sangat serius, tidak main-main. Menanggapi murka Tuhan ini, banga Israel tinggal mengharapkan kemurahan hati Tuhan saja, karena itu mereka berseru kembali dalam seruan pengakuan dosa. …kami telah berbuat dosa. Lakukanlah kepada kami segala yang baik di mataMu. Hanya tolonglah kami sekarang ini! (ay.15). bangsa Israel mengaku telah berdosa dan siap menanggung akibat dari dosa mereka. Agaknya, mereka telah siap mendapatkan hukuman dari Tuhan tapi tidak dengan cara dihukum seperti ini. Situasi saat itu memang sangat genting. Hidup dan masa depan mereka sedang dipertaruhkan. Tidak ada jalan keluar, selain Tuhan Allah.
12. Ayat. 16. Kemudian orang Israel menjauhkan/membuang para allah asing dari tengah-tengah mereka. Tindakan ini wujud dari penyesalan dan pengakuan dosa mereka. Nampaknya tindakan ini memperlihatkan keseriusan mereka untuk bertobat dan meminta pengampunan. Keseriusan ini dilihat oleh Tuhan Allah, lalu seperti biasa, Allah yang sangat sabar dan penuh kasih mengampuni mereka. Tuhan tidak dapat lagi menahan hatiNya melihat kesukaran mereka.
13. Seruan minta tolong yang dilakukan oleh Israel diikuti dengan sikap yang radikal. Tidak lagi menyembah allah-allah lain. Ada perubahan yang mendasar dari sikap mereka. Sikap mereka memang harus tegas. Saat kembali memilih Tuhan Allah maka, prilaku yang jahat harus ditinggalkan.
14. Sikap dan prilaku bangsa Israel ini juga mengajarkan bagi kita bahwa hanya ada satu pilihan untuk kembali kepada Tuhan Allah, yaitu: menaikkan doa pengampunan dosa dan meninggalkan segala dosa. Sikap tegas inilah yang diharapkan Tuhan bagi kita. Jika sejarah hidup kita juga mencatat bahwa pertolongan Tuhan demikian besar, maka kenapa pilihan hidup kita diombang-ambingkan oleh sikap yang menduakan Tuhan Allah. Memilih untuk kembali kepada Tuhan sekaligus memilih untuk setia kepadaNya. Exaudi: tangihon Ham ma, ale Jahowa! Tuhan akan mendengar! Amen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tuliskan komentar anda!