Minggu 9 Mei 2010. Rogate (Martonggo/ berdoa)
Teks Ambilan : 4 Musa(Bilangan) 14: 11-20
Sibasaon : 1 Timotius 2:1-7
Topik mingguan : Berdoa (Mzm 66:20)
bahan sermon, 30 april 2010
Berdoa dan memohon ampunlah kepada Tuhan!
1. Kitab Bilangan adalah kitab keempat dari Pentateukh (kelima Kitab Pertama P.L.: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan).
Disebut Bilangan karena berisikan dua cacah Jiwa suku-suku Israel (1:20-46 dan 26:5-51) dan kaum Lewi (3:14- 51 dan 26:57-62). Di dalamnya juga terdapat datar bermacam-macam hal, beberapa diantaranya dalam angka-angka: daftar pemimpin yang membantu cacah jiwa (1:5-15); daftar persembahan yang dibawa untuk pentahbisan Mezbah (7:10-83), daftar pengintai yang diutus untuk menyelidiki Kanaan (13:4-15), daftar kurban yang harus dipersembahkan pada hari-hari besar dan hari raya (28: 1-29:38); dan daftar jarahan yang diambil dari orang-orang Midian (31:32-52).
2. Cerita dalam Bilangan dimulai di Padang Gurun Sinai, tepat sesudah peristiwa perjanjian dan berakhir 40 tahun kemudian, ketika umat Israel menunggu di dataran Moab untuk memasuki Tanah Perjanjian. Jelas isinya adalah mengenai cerita-cerita perjalanan panjang dan melelahkan di padang gurun selama 40 tahun dibawah pimpinan Musa dan Harun. Pokok perhatian Kitab ini adalah kehadiran Yahwe bersama umat-Nya, ketika mengembara di Padang Gurun: Allah berjalan bersama mereka dan memimpin hidup mereka. Di pihak lain, Bangsa Israel kerap menggerutu dan memberontak; mereka menentang Allah dan memohon pengampunan.
3. Sejarah Israel mulai dari Keluaran sampai Ulangan menceritakan relasi antara Allah dan Bangsa Israel. Dalam relasi itu, Allah memperlihatkan 3 hal yaitu: kehadiran Allah, Pemeliharaan Allah dan Kesabaran Allah. Allah menyatakan kehadiranNya kepada orang Israel secara luarbiasa. Perjalanan mereka tidak pernah luput dari pantauan Allah (lih. 9:15-16). Masa di padang gurun juga merupakan pelajaran terus-menerus tentang kehadiran Allah. Ia memberikan “manna” dan burung puyuh (Kel.16). kisah ini diulangi dalam Bilangan 11, di mana pemeliharaan Allah terlihat, sekalipun Israel bersungut-sungut dan berkeluh kesah. Salah satu pokok penting dalam Teologi Israel adalah kepercayaan bahwa Allah itu panjang sabar. Kitab Bilangan penuh dengan cerita sungut-sungut dan keluhan umat Israel.
Mereka mengeluh tentang kemalangan mereka (11:10. Mereka menginginkan ikan, mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih mesir (11:5), seolah-olah mereka telah melupakan kejamnya perbudakan di Mesir. Ketika Allah mengirim burung puyuh, mereka bersungut-sungut (11:33, bndk Kel.16). Miryam dan Harun mengeluh tentang istri Musa (12:1) dan kemarahan mereka meluap-luap, bahkan mereka iri terhadap Musa (12:2) dll.
4. Demikian relasi antara Allah dan bangsa Israel terbangun dengan pola yang tidak seimbang. Allah hadir, memelihara dan sangat sabar tapi dipihak lain bangsa ini tampil dengan wajah yang penuh sungut-sungut, keluh-kesah seolah-olah Allah tidak bekerja dalam perjalanan mereka.
5. Perikop ini juga menceritakan bagaimana sungut-sungut mereka menjelma menjadi sikap pemberontakan terhadap Allah. Kisah ini bermula dari kedua belas pengintai yang dikirim Musa sesuai perintah TUHAN (13:1) untuk mengintai Tanah Kanaan, tanah yang akan diberikan sebagai Tanah Perjanjian itu. Laporan yang dibawa oleh para pengintai selama 40 hari memunculkan dilemma dan pada akhirnya melemahkan semangat orang Israel. investigasi itu berisi catatan tentang bangsa-bangsa yang mendiami daerah sekitar Kanaan. Catatan itu menyebutkan bahwa negeri itu berlimpah-limpah susu dan madu (13:27) namun bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar. Di sana berdiam keturunan Enak. Orang Amalek diam di tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam di sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan. Selain itu ada juga kabar busuk dengan cerita bahwa negeri yang diintai itu dihuni para Kanibal dan berisi orang besar/raksasa (13:32-33).
6. Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu, lalu bersungut-sungutlah mereka kepada Musa dan Harun (14;1-2). Kelihatan mereka takut sekali ( mereka mengkuatirkan bencana yang akan menimpa keluarga dan diri mereka sendiri 14:2b-3) dan berikhtiar untuk kembali ke Mesir: “ baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir (14:4)”. Kaleb dan Yosua pun tidak didengar. Menurut Yosua, musuh boleh sangat kuat tapi jangan karenanya memberontak kepada Allah, dan jangan takut! Statemen inipun tidak diindahkan, bahkan mereka diancam hendak dilempari dengan batu.
7. Respon TUHAN terhadap sikap Israel (ay.11-12). Yahwe menunjukkan kepada seluruh umat Israel yang mengeluh kepada Musa tentang penghinaan umat dan penolakan mereka terhadap semua tanda mujizat (ay.11). Yahwe mengumumkan akan membinasakan seluruh umat dengan sampar dan berjanji akan memulai lagi dengan membangkitkan dari Musa sebuah bangsa yang lebih besar dan lebih kuat (ay.12).
8. Pembelaan Musa kepada TUHAN sebagai Doa permohonan Ampun (ay. 13-19). Musa tampil dengan berani mengajukan pembelaan, menggunakan nama baik Yahwe di kalangan bangsa-bangsa lain sebagai argumennya (13-16). Musa mengatakan bahwa Yahwe dikenal sebagai Allah di antara umat, Allah yang menenmani mereka siang dan malam. Andaikata bangsa ini akan dimusnahkan, bangsa-bangsa lain akan mempunyai alasan untuk mengatakan bahwa Yahwe tidak memiliki kekuatan untuk membawa mereka ke tanah Perjanjian. Musa mengatakan kehormatan dan kedudukan Yahwe diantara bangsa-bangsa ada dalam “taruhan” ini. Mengutip rumusan Kel.34:6-7, Musa memberikan “saran” agar kekuasaan Yahwe lebih baik diperlihatkan tidak dengan pembunuhan tetapi dengan kesabaran, kebaikan, pengampunan dan dengan penghukuman yang adil atas dosa mereka (ay.17-18.”Tuhan itu berpanjangan sabar dan kasih setiaNya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran” ). Musa meringkas permohonannya dengan meminta kepada Yahwe agar memaafkan kejahatan umat sesuai dengan kebesaran dari perjanjian kasih, seperti Yahwe banyak sekali telah mengampuni mereka sejak dari Mesir sampai saat ini (ay.19)
9. Musa mengajukan permohonan kepada Yahwe untuk memelihara hubungan perjanjian yang dibuat ketika Yahwe mengeluarkan mereka dari Mesir. Demikianlah Musa berseru kepada Yahwe akan kesetiaan terhadap perjanjian dan serta merta mengakui kebebasan Yahwe untuk melestarikan atau memutuskan hubungan dengan umat. Pengampunan yang diminta oleh Musa adalah dalam rangka memelihara hubungan antara Yahwe dan umat serta keputusan untuk tidak membinasakan mereka. Pada akhirnya, di ayat 20 Allah sekali lagi memberikan pengampuna kepada bangsa Israel.
10. Hukuman pemusnahan sudah diwartakan oleh Tuhan Allah. Jelas, hukuman ini adalah dampak dari pemberontakan dan ketidaksetiaan Israel terhadap Tuhan Allah. Apa yang bisa dipakai untuk keluar drai hukuman ini? Musa tampil dalam “doa permohonan” kepada Tuhan Allah supaya dalam kuasa kesabaran, kasih yang dimiliki Tuhan ada pengampunan.
11. Tindakan untuk memohon pengampunan adalah cara yang paling bijak dan baik. Dosa dan pelanggaran ternyata bisa diselesaikan melalui permohonan doa ini. Minggu Rogate: berdoa/martonggo membawa kita pada pemahaman bahwa hubungan/relasi dengan Allah ternyata bisa diperbaharui dengan doa permohonan. Kasih setia Allah jauh lebih besar dari pada marah dan murkaNya. Jika dalam perikop ini Musa tampil sebagai perantara bagi pengampunan kepada Tuhan Allah, dalam Perjanjian Baru kita mempunyai perantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tapi juga untuk dosa seluruh dunia (1 Yoh.2:1b-2).
12. Pada akhirnya, dengan dan melalui doa kepada Tuhan Yesus Kristus, kita yakin akan memperoleh pengampunan dan pemulihan. Oleh karena itu, jalan terbaik bagi kita adalah menaikkan doa permohonan kepada Tuhan agar mendapat pengampunan. Jangan kuatir, takut dan tawar hati kita sebab, sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba (Yes.1:180. Berdoalah! Amen.
Catatan: sikap dan perbuatan inilah yang pada akhirnya membuat bangsa ini tidak bisa memasuki Tanah Kanaan (lih. Bil.14:20-23,”…semua yang menista Aku ini tidak akan melihatnya [tanah Perjanjian]).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tuliskan komentar anda!