Minggu : 7 set. Trinitatis
Ambilan : Pengkotbah 6: 1-12
Sibasaon : 2 Petrus 2:10-15
Bahan sermon tgl 16 juli 2010
Cari dan pergunakanlah Harta Milikmu untuk Tuhan!
1. Kitab Pengkotbah adalah salah satu kitab yang paling sulit dipahami dalam Alkitab. Isinya seringkali membingungkan banyak orang terutama pembaca pemula Karena sering dianggap mendorong sikap hidup fatalistik atau menyerah kepada nasib. Pengkotbah mengatakan berulang-ulang misalnya: segala sesuatu adalah kesia-siaan. (Pengkotbah 1:1, 2:21, 3:6-7, 5:15, 6:11, 8:14). Pertanyaan: jika segala sesuatu benar adalah kesia-siaan, untuk apakah kita hidup, dan untuk apakah kita beriman dan berbuat baik?
2. Membaca Kitab Pengkotbah memang membutuhkan ketenangan, perenungan dan secara menyeluruh. Hanya dengan demikianlah kita menemukan maksud sesungguhnya sang pengkotbah, yaitu bahwa akhirnya manusia harus takut kepada Allah (Pengkotbah 12:14). Dengan kata lain, hanya dengan beriman dan bergantung kepada Allah sajalah segalanya menjadi tidak sia-sia!
3. Nama Pengkhotbah dalam bahasa Latin “ecclesiases”, ada kaitannya dengan Gereja atau sinagoga. Ini merupakan terjemahan kasar dari kata Ibrani “Qohelet”. Pengkotbah hidup antara tahun 300 sampai 200 SM. Kualitas ucapannya menyatakan hal itu. Rupanya ia seorang guru di Yerusalem. Banyak orang berguru kepadanya.
4. Caranya mengajarnya, mungkin agak membingungkan pendengarnya. Namun demikian adalah keliru untuk mencapnya sebagai seorang yang pesimis yang mengajarkan keputusasaan (lih.1:2,” Kesia-siaan belaka, kata pengkotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia”). Sepintas ayat tersebut membawa pendengar pada pesimisme. Padahal maksud dari pengkotbah adalah untuk menghilangkan semua pengharapan palsu dan menyesatkan, yang mengusai pikiran manusia di dunia ini.
Kebebasan Allah dan rahasia jalan-jalan-Nya adalah kenyataan yang dimengerti oleh Pengkotbah lebih daripada orang-orang sebangsanya, yang tidak selalu mengetahui batas-batas yang ditentukan oleh kuasa Allah bagi pemahaman manusia. “karena siapakah yang mengetahui apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek dari hidupnya yang sia-sia, yang ditempuhnya seperti bayangan? Siapakah yang dapat mengatakan kepada manusia apa yang akan terjadi di bawah matahari sesudah dia?” (Pkh 6:12). Pertanyaan retoris ini menunjukkan jurang pemisah yang dalam antara pengetahuan Allah dan apa yang dapat dikeahui oleh manusia.Kegagalan untuk mengenal batas-batas manusia telah mengakibatkan orang terlalu jauh menilai prestasinya dalam hikmat, kesenangan, kehormatan, kekayaan dan keadilan. Keyakinan palsu inilah yang diserang oleh Pengkotbah dalam Pkh 1:2.
5. Hikmat dunia dalam pikiran manusia itulah yang menjadi kesia-siaan (harta benda, jabatan duniawi sering dianggap menjadi tujuan akhir manusia di dunia ini dan hasilnya adalah kesia-siaan. Kebahagiaan ternyata tidak dapat dicari dengan cara tersebut).
6. Supaya orang dapat menemukan kebahagiaan sejati, maka ia harus membinasakan kebahagian palsu yang terus menerus mereka cari di dunia dan yang hanya menghasilkan ketidakbahagian bagi mereka.
7. Ayat 1-2. Pengkotbah memulai perikop ini dengan memberikan gambaran sebuah kemalangan/kesia-sian juga ironi dalam kehidupan manusia. Orang yang dikaruniakan Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan sampai tak berkekurangan apapun menjadi orang yang paling malang dan sia-sia, jika tidak diberi kuasa oleh Allah untuk menikmatinya. Jelas hal ini menjadi sesuatu yang ironis. Itu sama saja artinya kita memiliki segepok uang tapi tidak punya hak untuk menggunakannya, maka itu berarti kesia-siaan juga kemalangan. Maksud Pengkhotbah ini jelas, hendak menyerang ide materialisme, keserakahan dan hidup yang tak terpuaskan. Harta benda, kekayaan saat menjadi pusat perhatian manusia, maka disanalah kegagalan untuk mendapatkan hak/kuasa dari Tuhan untuk menikmatinya. Agak sukar [kalau tidak mau dikatakan “tidak bisa/gagal] bagi orang kaya raya untuk menikmati kekayaannya (apalagi hidup sudah diwarnai materialism). Justru, orang-orang diselilinginya yang bisa menikmati kekayaannya.
8. Ay.3-9. Rasanya, tidak ada yang bisa menjelaskan dan memberi batas atas keinginan manusia [keinginan daging]. Toh, harta benda, uang, kemuliaan dalam sejarah peradaban manusia tak pernah memuaskan, selalu saja ada yang kurang. Bagi orang Yahudi kekayaan, keturunan yang banyak dinilai sebagai karunia yang besar (lih. Kej.24:60; Mzm 127:3-5), demikian juga umur yang panjang (lih. Kel.20:12; Ul.11:9,21). Tapi sekali lagi, koq faktanya banyak orang yang tidak puas atau terpuaskan padahal sudah memiliki segalanya? Dalam perikop ini disebutkan bahwa jika orang memperoleh seratus anak dan hidup lama sampai mencapai umur panjang, tetapi ia tidak puas dengan kesenangan… bukankah hal itu sudah lebih dari cukup! Karena itu, jika tidak puas maka anak yang gugur dalam kandungan jauh lebih baik dan lebih tentram. Bagian ini hendak menjelaskan bahwa persoalan manusia adalah member batas atas keinginannya sekaligus mensyukuri apa yang ada, sebab jika tidak demikian maka keinginan akan menjadi sumber kesia-seiaan (ay.7).
9. Ay. 10-12. Pengkhotbah mengajarkan apa yang baik sebagai nilai yang tetap adalah manusia hidup dalam takut akan Tuhan ketika mencari kekayaan, harta benda dan kemuliaan. Dengan kata lain mencarinya dengan ketentuan Allah dan menggunakannya sesuai dengan kehendak Allah. Manusia toh tidak dapat mengadakan perkara dengan yang lebih kuat dari padanya (ay.10). manusia dengan segala kekayaan, keturunan, umur yang panjang tidak ada artinya dibandingkan kemahakuasaan Allah yang menentukan jalan hidupnya. Jerih payah manusia mengejar semuanya adalah kesia-siaan, karena Allah yang Maha Kuasalah yang menentukan (bnd. 2:26; 3:11-13).
10. Ketentraman jiwa, kebahagiaan jiwa tidak dapat diperoleh melalui harta, keturunan, umur panjang saja, apalagi dijadikan jalan untuk memperolehnya. Keinginan daging, nafsu duniawi sangat menyesatkan dan merugikan yang dalam bahasa Pengkotbah disebutkan sebagai kesia-siaan.Tuhanlah yang dapat memuaskan jiwa manusia sehingga tentram (bnd. Ul.33:12; Mzm 103:5; 107:8-9; Mat.11:28-29).
11. Firman ini tidak menganjurkan kita membenci harta-benda, kekayaan, umur panjang dan keturunan, tapi hendak menseleksi perpsfektif kita atasnya. Jika semua itu kita cari dan dapatkan sesuai dengan perintah Tuhan [tidak hasil korupsi, mencuri-merampas, berjudi dll] dan dikelola seturut dengan perintan Tuhan maka itu adalah Berkat dan kebahagiaan. Amen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tuliskan komentar anda!