Selamat Datang di Blog saya! Tuhan Memberkati...

SALAM DAMAI DALAM KASIH TUHAN SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT GBU

Selasa, 08 November 2011

Kayalah dalam kebajikan; memberi dan membagi!


Minggu                        : 8 set. Trinitatis
Ambilan                      : 1 Timotius 6:17-19
Sibasaon                      : Mzm 49:2-14
Topik mingguan          : Harta Milik 3: penataan harta Milik.
Bahan sermon tgl 23 juli 2010
Kayalah dalam kebajikan; memberi dan membagi!
1.      1 dan 2 Timotius dialamatkan kepada Timotius, yang disebut dalam 1 Tim 1:2: gnesion teknon en pistei (anak yang sah di dalam iman) dan dalam 2 Tim 1:2: agapeton teknon (anak yang kekasih). Timotius, menurut Kis 16:1, adalah anak seorang wanita Kristen Yahudi dan ayah bukan Yahudi dari Listra – kemungkinan ia menjadi Kristen melalui pengaruh Paulus ( 1 Kor 4:17). Dalam 1 Tes, Filipi, 2 Kor dan filemon (bndk juga 2 Tes dan Kolose), rasul Paulus menyebutkan dia sebagai pengirim bersama dari sebuah surat. Jelas ia merupakan rekan akrab Paulus dan juga utusannya. Timotius sering diutus untuk mengunjungi jemaat-jemaat (Tesalonika: 1 Tes 3:1, Filipi: Flp 2:19, Korintus: 1 Kor 4:17; 16:10). Pada kesempatan-kesempatan itu, Paulus dengan bangga memberitahukan kepada Gereja-Gereja bahwa Timotius setia dan dapat diandalkan.

2.      Dalam 1 Timotius, Paulus menghimbau Timotius untuk mengawasi pemberitaan Injil. “ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku mendesak engkau supaya tinggal di Efesus dan menasehatkan orang-orang tertentu, agar jangan mengajarkan ajaran lain (1 Tim:3)”.

3.      Surat ini berbentuk Surat Pastoral/penggembalaan karena secara terbuka berbicara mengenai masalah-masalah yang mengganggu kehidupan jemaat dan menyajikan jalan keluar serta nasihat yang kuat.
Bagian penggembalaan itu disusul oleh suatu bagian yang beriskan petunjuk-petunjuk (2:2-3:13). Pertama-tama bagian itu membahas doa (2:1-15), menyusul himbaun kepada para pejabat (3:1-7: syarat-syarat bagi penilik jemaat, 8-13: syarat-syarat bagi diaken), lalu aturan-aturan Gereja atau kehidupan Kristen (4:1-5) yang cirri khusunya adalah bahwa ia mengacu ke masa depan yang ditujukan oleh Roh. Lalu, pengaturan kehidupan Kristen (5:3-6:2) yang pertama membahas janda (5:3-16), kemudian para penatua (5:17-20). Bagian terakhir (6:3-21) mengandung serangkaian petunjuk penggembalaan dan petunjuk hidup Kristen
4.      Perikop ini (fasal 6) adalah bagian terakhir yang mengandung serangkaian petunjuk penggembalaan dan petunjuk hidup Kristen. Ada hal khusus yang perlu diperhatikan tentang gaya hidup yang tidak sesuai dengan semangat Kekristenan. Dalam hal ini, himbauannya secara spesifik ditujukan kepada orang kaya dalam seluruh kekayaannya.
5.      Ayat 17. Paulus menghimbau Timotius agar menasehati prilaku yang memiliki tendensi menyimpang/keliru atas harta dan kekayaan. Dalam ayat ini ada dua sifat/karakter yang dapat terjadi dalam diri seseorang karena pengaruh harta-kekayaan [materialism]. Kekayan bisa menjadikan orang menjadi tinggi hati. Karena kekayaan maka perspektif orang pun bisa keliru. Baik yang kaya atau orang disekelilingnya bisa salah mengartikan kekayaan itu. Yang kaya akan memandang orang lain dari status sosial dan ekonominya saja, bukan lagi dari citra Allah dalam diri manusia (imago Dei),  disisi lain, orang kebanyakanpun memandang orang kaya hanya karena dia kaya (sitonggor jumbak). Lalu, perspektif itu membangun tolok ukur kehidupan berdasarkan harta dan kekayaan (berharap pada kekayaan). Hal ini juga menimbulkan kekeliruan. Apa saja dilakukan supaya bisa kaya [segala cara dihalalkan].
6.      Paulus mengingatkan Timotius agar member peringatan serius! Kepada orang-orang [secara khusus orang kaya] agar tidak keliru dan salah mengartikan kekayaannya, baik cara mendapatkan dan cara mengelolanya. Timotius harus manyatakan, mengumumkan baik sifat tersebut diatas akan menghancurkan keutuhan persekutuan jemaat. Harusnya semua orang berharap kepada Allah dalam kekayaanNya. Bukan berharap kepada kekayaan materi dunia ini, sebab Allah yang memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.
7.      Melalui bagian ini, ada harapan yang ingin didapatkan yaitu:1. Supaya setiap orang yang memiliki harta kekayaan, menjaga diri dari pengaruh negative yang hadir karenanya. 2. Supaya hidup dalam kerendahan hati, 3. Berharap hanya kepada Allah saja.
8.      Jelas, Allah saja yang memelihara hidup kita dan yang kita miliki. Yesus berkata,”berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang hidup berlimpah-limpah hartanta, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu,” (Luk.12:15).
9.      Hidup sesorang tidak tergantung kepada harta yang dikumpulkannya, tetapi harus tergantung pada Allah sumber berkat itu, “siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh, tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda,” (amsal 11:28). Jika demikian, pertambahan harta benda harus serta merta diimbangi dengan hidup dalam kerendahan hati dihadapan sesame dan Allah.
10.  Ayat.18-19.  Kepada orang-orang kaya itu, Timotius juga diminta untuk mengingatkan mereka agar berbuat kebajikan. Kekayaan itu  [orang kaya] harus memperlihatkan sisi positifnya dengan berbuat baik, kaya dalam kebajikan tidak karena harta saja, suka memberi dan membagi. Inilah perintah bagi mereka yang kaya itu, supaya kekayaannya tidak justru melarutkannya kepada kesesatan. Menjadi kaya ternyata tidak secara materi saja, tapi harus juga kaya dalam kebajikan. Bukankah memberi dan membagi terangkan hati?
11.  Tuhan Yesus sangat keras menentang orang kaya dalam harta tapi tidak kaya dalam kepekaan terhadap tanggungjawab sosial (lih. Mat.19:16-26, Mrk 10:17-27, Luk.18:18-27. Kaya dalam kebajikan , suka member dan berbagi adalah buah drai pemahaman yang benar atas hartanya. Dalam Ulangan 8:18 dikatakan,”tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN Allahmu, sabab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkanNya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini (bndk. 1 Sam 2:7, 1 Raj 3:13, 1 Taw 29:12, Am 22:4). Jadi kekayaan adalah berkat Tuhan yang diturunkan kepada manusia. Jika hal ini dilakukan maka inilah capaian hidup yang sebenarnya (ay.19).
12.  Harta di dunia ini selain adalah berkat dari Tuhan untuk capaian hidup yang sebenarnya, juga sebagai kendaraan untuk memperoleh harta di sorga (lih. Mat.6:20, Luk 12:33-34, Kol 2:1-20.
13.  Sekali lagi, kita sering keliru memandang harta benda dan kekayaan. Cara dan gaya kita sangat serius sedang dalam kesalahan fundamental dalam memandang harta benda di dunia ini. Firman tugan ini memberi peringatan yang serius bahwa,  kekayaan lagi-lagi bukanlah segalanya dan menjadi tuhan yang diberhalakan. Kekayaan itu dari Tuhan dan adalah berkat. Untuk itu, jika kekayaan kita adalah benar dari dan milik Tuhan, bukankah jauh lebih baik dan mulia jika dikelola sesuai dengan cara Tuhan juga? Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tuliskan komentar anda!