Minggu : 21 Set. Trinitatis
Ambilan : Roma 12:1-3
Sibasaon : Yosua 24:14-24
Bahan sermon tgl 30 Oktober 2009
Tubuhku: persembahan yang Hidup, Kudus dan Berkenan bagi Allah!
1. Surat ini ditulis oleh Paulus dari Kota Korintus kepada orang-orang Kristen di Roma menjelang akhir tahun 56 M. Jemaat ini bukan hasil dari missi Paulus, tapi dibangun oleh anggota Jemaat Kristen Yahudi. Sekitar tahun 49 M, Kaisar Kaudius mengusir orang-orang Yahudi. Tahun 54 M, setelah kaisar Klaudius meninggal, orang Kristen Yahudi kembali ke Roma dan terkejut menemukan sejumlah besar orang Kristen non Jahudi. Jadi jemaat yang dituju oleh Paulus ini sebagian besar Kristen non Jahudi.
2. Perkembangan kekristenan di ibukota Romawi ini berkembang pesat. Namun demikian mereka tetap sebagai kelompok minoritas yang hidup bersama dengan pelbagai bangsa dan pemerintahan Romawi. Untuk itu, Paulus sering dalam suratnya memberikan nasehat sebagai tantangan hidup sehari-hari (baik dalam komunitas mereka dan saat hidup berdampingan dengan orang lain) yang lebih berkaitan dengan teladan daripada dengan perintah atau tuntutan [hidup dalam Taurat]. Semua orang Kristen diharapkan menjadi teladan dalam sikap dan prilaku di tengah hidup yang sangat plural, sebagai aplikasi dari kekristenan itu sendiri.
3. Dalam konteks itu, Paulus berulang-ulang dalam surat-suratnya menyebut orang beriman sebagai “saudara-saudara” (ay.1), bukan supaya orang memandangnya dengan istimewa, melainkan untuk menggambarkan kedekatan sebagai sebuah keluarga. Paham sebagai sebuah keluarga tentu akan melahirkan sikap yang baik, jujur, dan mengasihi yang praktis terlihat dari cara/sikap sebuah keluarga dibandingkan bila satu dengan yang lain hanya berhubungan formal atau frontal – saling bermusuhan. Sapaan dalam ayat 1 ini adalah sikap teladan yang Paulus perlihatkan kepada mereka.
4. Dalam ayat 1, teladan Kristus diperlihatkan melalui ibadah yang sejati kepada Allah. Ibadah sejati ini hanya bisa diperlihatkan dengan mempersembahkan tubuh sebagi persembahan yang hidup, kudus dan berkenan [bndk Amos 5:21-24, saat Tuhan Allah membenci ibadah Israel, yang dilakukan dengan kepura-puraan, atau hanya untuk memenuhi kewajiban formal saja]. Tubuh, Roh dan Jiwa adalah milik Tuhan Allah, maka semuan perangkat ini haruslah dipakai secara maksimal untuk kemuliaan Allah dalam setiap kehidupan. Dalam 1 Petr 2: 1-5 disebutkan untuk bisa menjadi batu hidup dan rumah rohani setiap pribadi harus mau dipakai dan dipergunakan Kristus sebagai persembahan rohani dengan membuang segala kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah seperti bayi yang baru lahir, yang menginginkan air susu murni dan rohani. Jadi jelas kualitas dari ibadah yang sejati bukan dari kewajiban formal, kepura-puraan, besar-kecil persembahan tapi memberikan diri secara utuh dan jujur untuk kemuliaan Tuhan.
5. Untuk bisa menjadikan tubuh kita menjadi ibadah yang sejati, Paulus mengingatkan bahwa kita tidak boleh sama dengan dunia ini. Oleh pembaharuan budi kita bisa berada dalam dunia ini tanpa harus sama dengan dunia ini. Pembaharuan budi inilah yang memampukan kita mengenal dan memahani kehendak Allah, apa yang baik dan yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Dengan demikian sesungguhnya tidak ada lagi alasan/apologi/kompromi terhadap yang tidak baik dan yang tidak berkenan bagi Tuhan. Pembaharuan Budi itu memampukan kita bukan saja membedakan yang baik dan buruk tapi juga memampukan kita mengambil sikap atasnya.
6. Dalam ayat 3 ini, Paulus menginginkan dalam aplikasi hidup ini, semua dilakukan secara proporsional, sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Melakukan kebaikan dan teladanpun hendaknya memiliki batasan dan cakupannya masing-masing. Semua dilakukan dalam porsinya, supaya manusia dapat menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah. Hendaknya orang jangan menambah kehormatannya sendiri (dengan memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikiran, ay.3). kehormatan dan rasa malu selalu dipahami sebagai hal konkret dan terbatas. Jika seseorang menambah kehormatan, ia akan kehilangan hal itu.
7. Rasul Paulus menginginkan kepada setiap orang yang beriman dan percaya supaya memiliki hidup yang berkualitas dan memiliki integritas. Dalam hubungan dengan Tuhan Allah, hal itu harusnya diperlihatkan secara jujur, serius melalui ibadah sejati yang diimplementasikan dalam cara mempersembahkan tubuh/hidup yang kudus dihadapanNya.
8. Hidup yang kudus dan berkenaan kepada Allah inilah yang menjadikan setiap orang percaya [Kristen] menjadi teladan dalam komunitasnya dan interaksi dengan masyarakat sekitarnya. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tuliskan komentar anda!